Mengenal Gejala Super Flu akibat Virus Influenza A H3N2 Subclade K
Kita-Sehat.id, Jakarta – Gejala super flu kembali menjadi perhatian setelah lonjakan kasus influenza dilaporkan di berbagai negara. Kondisi ini dipicu oleh penyebaran varian influenza A H3N2 subclade K. Meski kerap disebut “super”, para ahli menegaskan bahwa penyakit ini bukanlah flu baru. Virus ini juga disebut tidak lebih mematikan, melainkan flu musiman yang menyebar lebih cepat dari biasanya.
Namun, tingginya angka penularan membuat jutaan orang jatuh sakit dalam waktu singkat. Hal ini memicu pertanyaan penting: apa saja gejala super flu yang perlu diwaspadai, dan seberapa besar risikonya bagi masyarakat Indonesia?
Apa Itu Super Flu dan Subclade K?
Super flu bukanlah istilah medis resmi, melainkan sebutan populer untuk musim flu yang terasa lebih “ramai” akibat tingginya angka penularan. Salah satu pemicunya adalah varian baru virus influenza A H3N2 yang dikenal sebagai subclade K.
Subclade K merupakan bagian dari keluarga influenza A H3N2. Tipe virus ini sering dikaitkan dengan musim flu yang lebih berat. Menurut laporan Newsweek, varian ini pertama kali diidentifikasi pada Agustus 2025. Varian ini dengan cepat menjadi strain dominan yang terdeteksi melalui pengujian laboratorium.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat, sekitar 89 persen sampel H3N2 yang diperiksa sejak akhir September merupakan subclade K. Perubahan genetik kecil pada virus ini—dikenal sebagai antigenic drift—membuatnya sedikit berbeda dari strain yang digunakan dalam vaksin flu musim 2025–2026 di AS.
Gejala Super Flu: Mirip Flu Biasa, Tapi Lebih Mudah Menular
Meski disebut “super”, para ahli menegaskan bahwa gejala infeksi akibat subclade K pada dasarnya serupa dengan flu musiman. Dr. Parth Bhavsar, dokter keluarga dan pendiri TeleDirectMD, menyebut varian ini sebagai “bagian dari influenza musiman yang mengalami pergeseran genetik”.
“Gejalanya tetap demam, nyeri tubuh, batuk, dan rasa lelah yang ekstrem. Tidak ada indikasi bahwa subclade K menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan H3N2 lainnya,” ujar Bhavsar kepada Newsweek.
Yang menjadi perhatian utama adalah kemampuannya menyebar dengan sangat efisien. CDC memperkirakan musim flu ini menyebabkan setidaknya 4,6 juta kasus penyakit, hampir 50 ribu rawat inap, dan sekitar 1.900 kematian di AS.
Flu atau Pilek? Ini Perbedaannya
Di tengah banyaknya penyakit pernapasan yang beredar, membedakan flu dan pilek menjadi penting. Pilek umumnya datang perlahan dengan gejala seperti hidung tersumbat, bersin, dan sakit tenggorokan ringan. Demam jarang terjadi pada orang dewasa, dan aktivitas harian biasanya masih bisa dilakukan.
Sebaliknya, flu—termasuk yang kerap disebut super flu—datang mendadak. Demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, batuk kering, dan kelelahan berat sering membuat penderitanya harus beristirahat total. Risiko komplikasi seperti pneumonia juga jauh lebih tinggi, terutama pada lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.
Situasi Subclade K di Indonesia Masih Terkendali
Bagaimana dengan Indonesia? Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan bahwa kondisi nasional masih relatif aman. Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan hingga akhir Desember 2025 tidak ada peningkatan tingkat keparahan akibat infeksi influenza A H3N2 subclade K.
“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A H3N2 subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman. Meliputi seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” jelas dr. Prima dalam keterangan resminya.
Subclade K telah dilaporkan di lebih dari 80 negara. Viru ini terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI. Hingga akhir Desember, tercatat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak.
Mengapa Tetap Perlu Waspada?
Walau tidak lebih ganas, tingginya penularan membuat flu jenis ini tetap berisiko membebani layanan kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya kewaspadaan, terutama saat mobilitas masyarakat meningkat dan cuaca mendukung penyebaran virus.
Kemenkes RI menyatakan seluruh varian yang terdeteksi di Indonesia masih termasuk varian yang telah dikenal dan beredar secara global. Namun, penguatan surveilans dan pelaporan tetap dilakukan untuk merespons dinamika situasi.
Pencegahan Super Flu yang Bisa Dilakukan
Langkah pencegahan tetap menjadi kunci. Masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan. Vaksin flu terbukti efektif mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian, meski virus mengalami perubahan kecil.
Selain itu, tetaplah di rumah saat mengalami gejala flu, gunakan masker, dan terapkan etika batuk,. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika gejala tidak membaik dalam tiga hari atau justru memburuk.
Super flu mungkin terdengar mengkhawatirkan, tetapi dengan informasi yang tepat dan pencegahan yang konsisten, risiko penularan dan dampaknya bisa ditekan. Mengenali gejala super flu sejak dini adalah langkah awal untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitar kita.




