
NEAT: Cara Membakar Kalori Tanpa Harus ke Gym | Kita Sehat

Benarkah Daging Kambing Bikin Darah Tinggi? Ini Faktanya | Kita Sehat

Pentingnya Me Time untuk Menjaga Kesehatan Mental | Kita Sehat

Bangun Tidur Tapi Masih Lelah, Apa Penyebabnya? | Kita Sehat
Artikel Terbaru

Dari Kuliner Nusantara ke Menu Masa Kini: Saat Rasa Lokal Kembali Jadi Inspirasi | Kita Sehat
Kuliner Indonesia tidak pernah kehabisan cerita. Dari masakan rumahan, jajanan kaki lima, hingga hidangan khas yang diwariskan lintas generasi, setiap daerah memiliki cita rasa dan tradisi yang membuat kuliner Nusantara begitu beragam. Menariknya, kekayaan tersebut kini tidak hanya dipertahankan sebagai warisan kuliner. Banyak chef dan pelaku bisnis kuliner mulai kembali menggali makanan lokal untuk menciptakan hidangan yang lebih modern dan sesuai dengan selera konsumen masa kini. Fenomena inilah yang menjadi salah satu inspirasi dalam “Future Menu 2026”, sebuah inisiatif dari Unilever Food Solutions (UFS) yang melihat bagaimana akar kuliner Indonesia dapat diterjemahkan menjadi menu baru yang lebih progresif.

Perut Buncit Bisa Menurunkan Testosteron? Ini Penjelasan Ilmiahnya | Kita Sehat
Perut buncit sering dianggap hanya masalah penampilan. Padahal, penumpukan lemak di area perut, terutama lemak visceral yang mengelilingi organ dalam, juga dapat memengaruhi kesehatan metabolik dan keseimbangan hormon pada pria, termasuk hormon testosteron. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pria dengan obesitas, terutama obesitas sentral (perut buncit), lebih berisiko memiliki kadar testosteron yang lebih rendah dibandingkan pria dengan berat badan sehat. Namun, hubungan ini bersifat kompleks dan tidak berarti setiap orang dengan perut buncit pasti mengalami kekurangan testosteron. Di Kita Sehat, kami mengajak masyarakat untuk memahami bahwa menjaga lingkar perut bukan hanya demi penampilan, tetapi juga untuk mendukung kesehatan hormonal dan metabolisme tubuh.

Olahraga Tidak Harus Berat, yang Penting Konsisten | Kita Sehat
Banyak orang berpikir bahwa olahraga harus dilakukan dengan intensitas tinggi agar memberikan hasil yang maksimal. Ada yang merasa harus berlari belasan kilometer, menghabiskan waktu berjam-jam di gym, atau mengikuti kelas olahraga yang menguras tenaga. Akibatnya, tidak sedikit yang justru menunda untuk mulai berolahraga karena merasa belum siap. Padahal, manfaat olahraga tidak hanya ditentukan oleh seberapa berat latihan yang dilakukan. Konsistensi justru menjadi salah satu kunci utama untuk memperoleh manfaat kesehatan dalam jangka panjang. Jika dilakukan secara rutin, aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga sedang pun dapat memberikan dampak positif bagi tubuh.

Kapan Waktu Terbaik untuk Berolahraga? Pagi atau Sore? | Kita Sehat
Sebagian orang memilih berolahraga di pagi hari untuk memulai aktivitas dengan tubuh yang lebih segar. Sementara itu, ada juga yang merasa sore atau malam adalah waktu terbaik karena tubuh terasa lebih bertenaga setelah menjalani aktivitas seharian. Lalu, sebenarnya kapan waktu terbaik untuk berolahraga? Apakah olahraga pagi lebih efektif dibandingkan sore? Jawabannya adalah tidak ada satu waktu yang paling ideal untuk semua orang. Waktu terbaik untuk berolahraga bergantung pada kondisi tubuh, tujuan kebugaran, serta rutinitas harian masing-masing. Yang terpenting adalah memilih waktu yang memungkinkan Anda berolahraga secara konsisten.

Skincare Mahal Bisa Sia-Sia? Ini 3 Kebiasaan yang Dapat Merusak Hasil Perawatan Kulit | Kita Sehat
Banyak orang rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli produk skincare dengan harapan kulit menjadi lebih sehat dan terawat. Namun, hasil penggunaan skincare tidak hanya ditentukan oleh harga atau kandungan produknya. Kebiasaan sehari-hari juga memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan kulit. Tanpa disadari, beberapa faktor dapat membuat manfaat skincare menjadi kurang optimal, bahkan memicu berbagai masalah kulit seperti kulit kusam, iritasi, atau penuaan dini. Di Kita Sehat, kami mengajak masyarakat untuk memahami bahwa kulit yang sehat dibangun melalui kombinasi produk yang tepat dan gaya hidup yang mendukung.

Lutut Bunyi "Krek"? Belum Tentu Osteoporosis | Kita Sehat
Banyak orang merasa khawatir ketika lutut berbunyi "krek" "kletuk" , , atau "klik" saat berdiri, jongkok, atau menaiki tangga. Tidak sedikit yang langsung mengira bunyi tersebut merupakan tanda osteoporosis. Padahal, anggapan ini tidak selalu benar. Pada banyak kasus, bunyi pada lutut merupakan kondisi yang normal dan tidak berbahaya. Namun, jika disertai nyeri, bengkak, atau gangguan gerak, bunyi tersebut dapat menjadi tanda adanya masalah pada sendi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Di Kita Sehat, kami mengajak masyarakat untuk memahami perbedaan antara bunyi sendi yang normal dan gejala yang perlu diwaspadai.
Konsultasi Kesehatan via WhatsApp
Punya pertanyaan seputar kesehatan keluarga? Hubungi tim redaksi kami langsung. Kami siap membantu Anda.
Respon cepat: 09:00 - 17:00 WIB

