Health Seputar Kesehatan Tech

Radioterapi Kanker Serviks, Terapi Presisi Pembuka Harapan Sembuh

  • January 3, 2026
  • 4 min read
Radioterapi Kanker Serviks, Terapi Presisi Pembuka Harapan Sembuh

Kita-Sehat.id, Jakarta – Kanker serviks masih menjadi mimpi buruk bagi perempuan Indonesia. Setiap tahun, sekitar 36.000 kasus baru terdiagnosis dan menempatkan kanker ini sebagai kanker terbanyak kedua pada perempuan. Namun di balik angka tersebut, kabar baik datang dari dunia medis: radioterapi kanker serviks kini berkembang pesat dengan teknologi presisi tinggi yang lebih aman, efektif, dan nyaman bagi pasien. Bukan lagi terapi yang menakutkan, radioterapi justru membuka harapan baru—bahkan pada stadium lanjut—asal dilakukan dengan pendekatan yang tepat.

Radioterapi sebagai Pilar Penting Terapi Kanker Serviks

Radioterapi merupakan salah satu dari tiga pilar utama terapi kanker, selain pembedahan dan terapi sistemik seperti kemoterapi. Dalam praktik klinis, perannya sangat krusial.
“Sekitar 50–60% pasien kanker membutuhkan radioterapi sebagai bagian dari rangkaian pengobatannya. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap skrining kanker serviks, semakin banyak pasien yang terdeteksi pada stadium yang masih dapat ditangani secara optimal dengan radioterapi, khususnya pada stadium II dan III,” ujar Dokter Spesialis Onkologi Radiasi di Primaya Hospital Bekasi Barat dr. Fauzan Herdian.

Pada kanker serviks, radioterapi tidak hanya berfungsi sebagai terapi utama, tetapi juga dapat menjadi terapi tambahan pasca operasi atau terapi paliatif untuk mengendalikan gejala pada stadium lanjut. Fleksibilitas inilah yang membuat radioterapi menjadi bagian tak terpisahkan dari tata laksana kanker serviks modern.

Dua Pendekatan Radioterapi: Eksternal dan Brakiterapi

Secara umum, radioterapi dilakukan melalui dua pendekatan utama. Pertama adalah radioterapi eksternal, yaitu pemberian sinar pengion berenergi tinggi yang diarahkan secara presisi ke area tumor menggunakan mesin khusus. Setiap sesi berlangsung sekitar 10–30 menit dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Pendekatan kedua adalah brakiterapi, yakni penempatan aplikator langsung di area tumor untuk memberikan dosis radiasi yang lebih terfokus. Pada kanker serviks, brakiterapi menjadi bagian yang sangat penting—bahkan wajib bila tidak ada kontraindikasi—untuk melengkapi dosis radiasi secara optimal.

Efek samping radioterapi umumnya bersifat lokal dan sementara, seperti iritasi kulit, gangguan pencernaan, atau keluhan berkemih. Dengan teknologi modern, risiko efek samping ini kini dapat ditekan seminimal mungkin.

Teknologi Presisi Tinggi Tingkatkan Keamanan dan Hasil Terapi

Kemajuan teknologi membawa radioterapi ke level yang jauh lebih presisi. Teknik seperti 3D Conformal Radiotherapy (3DCRT) dan Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT), termasuk pengembangan lanjutannya seperti VMAT dan IGRT, memungkinkan pengaturan dosis radiasi yang sangat akurat.

Teknologi ini membantu dokter menargetkan sel kanker secara optimal sekaligus melindungi jaringan sehat di sekitarnya.
“Dengan teknik modern seperti IMRT dan VMAT, radioterapi kini semakin aman dan nyaman. Tingkat keberhasilan terapi meningkat, sementara efek samping dapat lebih terkontrol, termasuk pada kanker serviks pasca operasi atau yang telah menyebar ke kelenjar getah bening,” tambah dr. Fauzan.

Radioterapi Kanker Serviks di Berbagai Stadium

Radioterapi memiliki peran luas di berbagai stadium kanker serviks. Pada stadium awal hingga lokal lanjut, radioterapi dapat menjadi terapi utama dengan tujuan kuratif. Pada pasien yang telah menjalani operasi, radioterapi berfungsi sebagai terapi tambahan untuk menurunkan risiko kekambuhan. Sementara pada stadium lanjut, radioterapi membantu mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Layanan radioterapi komprehensif dengan teknologi modern ini telah tersedia di Primaya Hospital Tangerang dan Primaya Hospital Bekasi Barat, memberikan akses lebih luas bagi pasien di wilayah Jabodetabek.

Deteksi Dini Tetap Menjadi Kunci Utama

Secanggih apa pun teknologi pengobatan, deteksi dini tetap menjadi faktor penentu keberhasilan terapi kanker serviks. Bila ditemukan pada tahap pra-kanker atau stadium sangat awal, peluang kesembuhan bisa mendekati 100 persen. Terapi pun menjadi lebih singkat, efek samping lebih ringan, dan biaya pengobatan lebih terjangkau.

Skrining kanker serviks dianjurkan dilakukan secara rutin melalui Pap smear setiap 3–5 tahun setelah menikah, atau tes IVA sebagai metode skrining awal, terutama di daerah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.

“Radioterapi bukan lagi terapi yang menakutkan. Dengan teknologi modern dan deteksi dini, radioterapi bahkan menjadi solusi yang memberi harapan besar bagi pasien kanker untuk sembuh dan kembali menjalani hidup secara produktif,” tutup dr. Fauzan.

About Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *