Kasus Virus Nipah di India Picu Kewaspadaan Asia
Kita-Sehat.id, Jakarta – Infeksi virus Nipah di India menjadi sorotan dunia. Hal ini menyusul temuan lima kasus terkonfirmasi di negara bagian Bengal Barat, India Timur. Dua diantaranya merupakan perawat di sebuah rumah sakit swasta yang berlokasi di dekat Kolkata. Sementara hampir 100 orang lainnya menjalani karantina ketat guna mencegah penyebaran lebih luas.
“Dua perawat di sebuah rumah sakit swasta terinfeksi virus Nipah, dan salah satunya kini berada dalam kondisi kritis,” ujar pejabat kesehatan Bengal Barat, Narayan Swaroop Nigam, kepada The Telegraph. Ia menambahkan bahwa kedua perawat tersebut mengalami demam tinggi dan gangguan pernapasan sebelum akhirnya dirawat intensif.
Situasi ini mendorong negara-negara tetangga meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah Thailand mulai melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap seluruh penumpang pesawat yang tiba dari India, khususnya dari wilayah Bengal Barat sejak Minggu (25/1).
“Kami telah mengeluarkan Kartu Waspada Kesehatan dan meningkatkan skrining di bandara untuk memastikan potensi kasus bisa terdeteksi lebih awal,” demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Thailand seperti dikutip The Nation Thailand.
Langkah serupa juga dilakukan Nepal. Juru bicara Kementerian Kesehatan dan Kependudukan Nepal, Prakash Budhathoki, mengatakan bahwa pengawasan telah diperketat di bandara internasional dan pos perbatasan utama.
“Kami telah meningkatkan pengawasan, khususnya di titik-titik perbatasan di Provinsi Koshi. Pemeriksaan kesehatan serupa juga diperintahkan di perbatasan lainnya,” kata Budhathoki kepada The Annapurna Express.
Apa Itu Virus Nipah?
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus Nipah merupakan virus zoonosis yang berasal dari genus Henipavirus. Virus ini secara alami dibawa oleh kelelawar buah dari spesies Pteropus, yang banyak ditemukan di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
“Virus Nipah diklasifikasikan sebagai patogen prioritas karena potensi epidemiknya yang tinggi serta belum tersedianya vaksin maupun pengobatan spesifik,” tulis WHO dalam keterangan resminya.
Virus ini pertama kali teridentifikasi dalam wabah besar di Malaysia pada 1999. Saat itu, lebih dari 100 orang meninggal dunia, dan sekitar satu juta ekor babi harus dimusnahkan untuk menghentikan penyebaran virus.
Virus Nipah di India Timbulkan Kekhawatiran
Tingginya angka kematian menjadi salah satu alasan utama mengapa virus yang disebabkan oleh kelelawar ini menimbulkan kekhawatiran global. WHO mencatat bahwa tingkat fatalitas virus Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen.
“Infeksi virus Nipah pada manusia dapat menyebabkan berbagai manifestasi klinis, mulai dari tanpa gejala hingga infeksi pernapasan akut dan ensefalitis fatal,” jelas WHO.
Media lokal India, The Economic Times, juga menekankan bahwa hingga kini belum ada vaksin atau obat antivirus yang terbukti efektif melawan virus tersebut. Penanganan pasien bersifat suportif, berfokus pada perawatan intensif dan pengendalian gejala.
Cara Penularan Virus Nipah
WHO menjelaskan bahwa virus Nipah dapat menular melalui hal berikut ini:
- kontak langsung dengan hewan terinfeksi,
- konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta
- penularan antarmanusia.
“Beberapa wabah ditelusuri kembali ke konsumsi buah atau produk buah, seperti jus, yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar buah yang terinfeksi,” tulis WHO.
Dalam kasus virus Nipah di India, otoritas kesehatan setempat menduga penularan terjadi dari seorang pasien. Individu tersebut mengalami gangguan pernapasan berat yang dirawat di rumah sakit yang sama.
“Sumber infeksi yang paling mungkin adalah pasien yang sebelumnya dirawat di rumah sakit tersebut,” ujar pejabat senior Kementerian Kesehatan Bengal Barat kepada The Telegraph. “Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan rantai penularan.”
Gejala Virus Nipah yang Harus Diwaspadai
Gejala awal virus Nipah meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Dalam beberapa hari, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan, kebingungan, kejang, hingga koma akibat peradangan otak.
“Virus Nipah dapat menyebabkan ensefalitis fatal, dan pasien sering mengalami gangguan neurologis serius,” jelas WHO.
Masa inkubasi virus ini berkisar antara 4 hingga 14 hari, bahkan dalam beberapa kasus bisa mencapai 21 hari.
Langkah Pencegahan yang Dianjurkan
Pemerintah India melalui Kementerian Kesehatan setempat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan ketat.
Langkah-langkah tersebut meliputi:
- mengenakan pakaian pelindung saat menangani hewan,
- mencuci buah sebelum dikonsumsi,
- melindungi pengumpulan getah dari kelelawar,
- menghindari area yang menjadi habitat kelelawar
WHO juga menegaskan pentingnya penguatan protokol di fasilitas kesehatan. “Tenaga medis harus menerapkan pengendalian infeksi secara ketat untuk mencegah penularan nosokomial,” tulis WHO.
Kewaspadaan Global Jadi Kunci
Lonjakan kasus virus Nipah di India menjadi pengingat, penyakit zoonosis masih menjadi ancaman nyata di era mobilitas global. Pengawasan lintas negara, edukasi publik, dan kesiapan sistem kesehatan menjadi kunci untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Meski hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Indonesia juga merupakan habitat alami kelelawar buah. Dengan pemahaman yang tepat dan langkah pencegahan yang konsisten, risiko wabah virus Nipah dapat ditekan demi melindungi kesehatan masyarakat.




