Health Jiwa Seputar Kesehatan

Risiko Self-Diagnose Kesehatan Jiwa Pakai AI, Hati-Hati Curhat ke Chatbot

  • January 30, 2026
  • 4 min read
Risiko Self-Diagnose Kesehatan Jiwa Pakai AI, Hati-Hati Curhat ke Chatbot

Kita-Sehat.id, Jakarta – Kecenderungan untuk self-diagnose kesehatan jiwa atau melakukan diagnosis sendiri terkait kesehatan mental semakin popular di kalangan anak muda, khususnya di era serba digital. Kemudahan seperti dengan hanya mengetik beberapa keluhan ke chatbot berbasis kecerdasan artifisial (AI), individu remaja dan dewasa muda merasa telah bisa mengetahui kondisi mental mereka. Mulai dari kepribadian, tingkat stres, hingga dugaan depresi. Informasi yang terasa praktis, cepat, dan personal. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada risiko besar yang tak boleh diabaikan.

Terkait hal tersebut, psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia -RS Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) dr Kristiana Siste menegaskan, penggunaan AI untuk mendiagnosis kondisi psikologis secara mandiri berpotensi menyesatkan dan bahkan membahayakan.

Anak Muda dan Ketergantungan pada AI

Tren penggunaan AI di kalangan generasi Z dan Alpha terus meningkat, termasuk untuk menilai kondisi Kesehatan jiwa. Hal ini dipaparkan dr Kristiana Sise dalam sebuah dialog pada penghujung November 2025 lalu.

“AI ini kan seringkali digunakan oleh Gen Z dan Gen Alpha untuk menanyakan, ‘Aku kepribadiannya apa? Introvert atau extrovert? Aku depresi nggak sih?” tuturnya, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan RI, Jumat (30/1).

Tak sekadar jadi tempat bertanya, menurut dr Kristiana, chatbot berbasis AI juga kerap jadi “tempat curhat” ketika anak muda merasa kesepian, tertekan, atau tidak punya ruang aman untuk bercerita. Komunikasi yang minim di dalam keluarga membuat sebagian remaja lebih nyaman menyampaikan keluhan emosional mereka kepada teknologi ketimbang orang terdekat.

Fenomena ini mencerminkan perubahan pola interaksi sosial di era digital. Anak muda terbiasa mencari jawaban instan dan anonim, tanpa harus menghadapi rasa canggung atau takut dihakimi. Namun, pendekatan ini justru menimbulkan persoalan baru.

Risiko Self-Diagnose Kesehatan Jiwa Tanpa Tenaga Profesional

Meski AI dapat berfungsi sebagai alat skrining awal, dr. Kristiana Siste menekankan bahwa hasil analisis dari chatbot tidak dapat dijadikan dasar diagnosis medis. Algoritma AI bekerja berdasarkan data dan pola, bukan melalui observasi klinis, wawancara mendalam, maupun pemeriksaan psikologis komprehensif.

“AI bisa membantu sebagai alat screening awal, misalnya untuk mendeteksi kecanduan internet, game, atau judi online. Tapi hasilnya sering keliru atau berlebihan, sehingga tidak boleh dijadikan dasar diagnosis,” jelasnya.

Praktik self-diagnose kesehatan jiwa menjadi semakin berbahaya ketika hasil “diagnosis” dari AI diunggah ke media sosial, lalu diikuti dengan self-treatment tanpa konsultasi tenaga profesional. Beberapa individu bahkan mengubah pola konsumsi obat, suplemen, atau terapi mandiri berdasarkan saran chatbot.

Menurut dr. Kristiana, langkah ini justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis, menunda penanganan yang tepat, dan memicu kecemasan berlebih. Salah diagnosis bisa membuat seseorang merasa sakit padahal tidak, atau sebaliknya, menganggap remeh gangguan serius yang sebenarnya memerlukan penanganan segera.

Dampak Sosial dan Emosional Ketergantungan pada AI

Ketergantungan berlebih pada AI juga berdampak pada relasi sosial. Dr. Kristiana menyoroti kecenderungan anak muda yang semakin menarik diri dari lingkungan karena merasa lebih dipahami oleh chatbot dibanding manusia.

Ketika AI menjadi satu-satunya tempat bercerita, risiko isolasi sosial meningkat. Padahal, interaksi langsung, empati, dan dukungan emosional dari orang sekitar memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan mental.

Lebih jauh, kebiasaan ini dapat membentuk pola pikir instan: mengharapkan jawaban cepat tanpa proses refleksi dan komunikasi mendalam. Akibatnya, kemampuan mengelola emosi, menyelesaikan konflik, dan membangun hubungan interpersonal bisa melemah.

Peran Keluarga dalam Penggunaan AI yang Sehat

Dr.Kristiana Siste menegaskan bahwa AI bukan pengganti peran manusia, terutama dalam isu sensitif seperti kesehatan jiwa. Di sinilah peran keluarga menjadi sangat penting.

“AI bagus jika digunakan bersama-sama oleh keluarga. Orang tua harus mengerti dulu lalu mengajak anaknya berinteraksi bersama,” tegasnya.

Pendampingan orang tua membantu anak memahami batasan teknologi sekaligus membangun komunikasi yang sehat di rumah. Diskusi terbuka mengenai perasaan, tekanan akademik, pergaulan, dan kecemasan dapat mengurangi ketergantungan pada chatbot.

Dengan membangun lingkungan yang aman secara emosional, anak muda tidak lagi merasa sendirian menghadapi masalah mentalnya. Mereka pun terdorong mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan, bukan mengandalkan self-diagnosis semata.

Menggunakan Teknologi secara Bijak untuk Kesehatan Jiwa

Teknologi AI memang membawa peluang besar dalam dunia kesehatan, termasuk untuk edukasi dan skrining awal. Namun, literasi digital dan kesehatan mental harus berjalan seiring.

Self-diagnose kesehatan jiwa melalui AI tidak boleh menggantikan proses diagnosis medis yang komprehensif. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater tetap menjadi langkah utama untuk mendapatkan penanganan yang tepat, aman, dan efektif.

Dengan pendampingan keluarga, edukasi yang memadai, serta pemanfaatan teknologi secara bijak, AI dapat menjadi mitra yang membantu—bukan sumber risiko—dalam menjaga kesehatan mental generasi muda.

About Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *