Uncategorized

Bayi Sering Gumoh? Memahami Regurgitasi dan GERD pada Anak Secara Medis

  • February 7, 2026
  • 5 min read
Bayi Sering Gumoh? Memahami Regurgitasi dan GERD pada Anak Secara Medis

Kita-Sehat.id, Jakarta – Regurgitasi atau lebih dikenal dengan istilah gumoh merupakan kondisi yang sangat umum terjadi pada bayi, terutama di usia awal kehidupan. Sayangnya, regurgitasi kerap disalahartikan sebagai penyakit serius, bahkan sering langsung dikaitkan dengan Gastroesophageal Reflux Disease/GERD. Padahal, secara medis, regurgitasi dan Gastroesophageal Reflux (GER) pada bayi umumnya bersifat fisiologis dan tidak berbahaya.

Menurut data klinis yang dipaparkan, sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncak kejadian pada usia 3–4 bulan. Sebagian besar bayi akan mengalami perbaikan seiring pertambahan usia, dan kondisi ini umumnya menghilang secara alami hingga usia 12 bulan.

Kesalahpahaman mengenai regurgitasi (gumoh), GER, dan GERD sering berujung pada kekhawatiran berlebih hingga penggunaan obat yang sebenarnya belum dibutuhkan.

Untuk memahami Regurgitasi dan GERD, pakar gastrohepatologi anak Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) dari RS Premier Bintaro mengajak orang tua melihat kembali anatomi saluran cerna bayi. Makanan masuk melalui mulut, melewati esofagus (kerongkongan), lalu menuju lambung. Di antara esofagus dan lambung terdapat katup alami yang disebut lower esophageal sphincter, yang berfungsi sebagai pintu pembatas.

“Pada bayi, sfingter ini masih belum matang. Itulah sebabnya aliran balik dari lambung ke kerongkongan sering terjadi dan bersifat normal,” jelas Prof. Badriul dalam Media Gathering & Health Talk di Jakarta, Rabu (4/2).

Apa Itu Refluks dan Regurgitasi?

Secara sederhana, refluks adalah aliran balik isi lambung ke esofagus. Namun, tidak semua refluks tampak dari luar. Ketika isi lambung yang naik tersebut berlanjut hingga keluar melalui mulut, kondisi inilah yang disebut regurgitasi atau gumoh.

“Yang sering kita lihat sebenarnya adalah regurgitasi. Refluks itu prosesnya di dalam, sedangkan regurgitasi adalah gejala yang tampak,” terang Prof. Badriul.

Karena itu, regurgitasi kerap digunakan sebagai penanda klinis terjadinya refluks, meskipun keduanya tidak selalu identik dengan penyakit.

Mengapa Regurgitasi Umum Terjadi pada Bayi?

Regurgitasi paling sering terjadi pada enam bulan pertama kehidupan. Berbagai penelitian lintas negara menunjukkan pola yang sama: sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, bahkan pada usia satu bulan angkanya bisa mencapai 80 persen. Frekuensinya akan menurun seiring bertambahnya usia dan biasanya menghilang pada usia 12–18 bulan.

Kondisi ini dikenal sebagai happy spitter—bayi yang sering gumoh tetapi tetap ceria, menyusu dengan baik, dan tumbuh sesuai usia. “Istilah ini penting untuk mengingatkan bahwa regurgitasi pada bayi sehat itu wajar dan tidak berbahaya,” kata Prof. Badriul.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa ASI eksklusif menyebabkan bayi lebih sering gumoh. Penelitian justru menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara bayi ASI eksklusif dan bayi yang mendapat susu formula. Bahkan, ASI memiliki keunggulan karena pengosongan lambung lebih cepat dan risiko alergi lebih rendah.

Lalu, Kapan Disebut GERD?

GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease adalah kondisi yang berbeda. Pada GERD, isi lambung berada terlalu lama atau terlalu sering di esofagus hingga merusak dindingnya. Paparan asam lambung yang berulang dapat menyebabkan esofagitis—peradangan pada kerongkongan.

“Kalau sudah merusak dinding esofagus, itu baru kita sebut disease. Bisa muncul nyeri, perdarahan, anemia, gangguan makan, bahkan mengganggu pertumbuhan anak,” ujar Prof. Badriul.

Meski refluks sangat umum, hanya sekitar 3–8 persen bayi yang benar-benar berkembang menjadi GERD. Tubuh bayi memiliki mekanisme pertahanan alami yang luar biasa, mulai dari lapisan pelindung esofagus, gerakan pembersihan kerongkongan, hingga air liur yang membantu menetralkan asam.

Tangisan Bukan Penentu Utama GERD

Salah satu kekeliruan paling sering di lapangan adalah mengaitkan bayi rewel dan tangisan berkepanjangan dengan GERD. Menurut Prof. Badriul, gejala tersebut sangat tidak spesifik.

“Sebagian besar bayi yang rewel ternyata hasil pemeriksaannya masih dalam batas normal. Jadi tangisan tidak bisa dijadikan dasar utama untuk mendiagnosis GERD,” tegasnya.

Alarm Sign yang Harus Diwaspadai

Orang tua perlu lebih jeli mengenali tanda bahaya. GERD patut dicurigai bila regurgitasi disertai gagal tumbuh, berat badan tidak naik sesuai usia, adanya darah pada muntahan, nyeri hebat, atau postur melengkung ke belakang karena kesakitan (Sandifer syndrome).

“Kalau tidak ada alarm sign, makan baik, tumbuh baik, berkembang baik, dan anak tetap happy, meskipun regurgitasi, itu bukan GERD dan tidak perlu obat,” jelas Prof. Badriul.

Dampak Jangka Panjang GERD pada Anak

Berbeda dengan regurgitasi fisiologis, GERD yang tidak ditangani dengan tepat dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang anak. Paparan asam lambung yang berkepanjangan dapat merusak dinding esofagus dan menyebabkan nyeri saat makan.

“Kerusakan esofagus dapat membuat anak menolak makan, asupan nutrisi berkurang, bahkan bisa terjadi perdarahan ringan dan anemia. Ini tentu berdampak pada tumbuh kembang anak,” jelas Prof. Badriul.

Meski risiko perubahan sel esofagus seperti yang ditemukan pada orang dewasa sangat jarang pada anak, kondisi ini tetap menjadi peringatan agar GERD tidak diabaikan.

Penanganan Regurgitasi: Fokus pada Edukasi dan Perawatan Dasar

Penatalaksanaan awal regurgitasi dan GER pada bayi umumnya tidak memerlukan obat. Pendekatan non-farmakologis menjadi langkah utama, meliputi edukasi orang tua, melanjutkan pemberian ASI, serta menghindari pemberian susu berlebihan.

Prof. Badriul menjelaskan bahwa pengaturan posisi bayi setelah menyusu sangat berperan dalam mengurangi regurgitasi. Bayi dianjurkan untuk disendawakan dan diposisikan dengan sudut sekitar 60 derajat selama beberapa waktu setelah minum. Pada kondisi tertentu, penggunaan susu formula yang ditebalkan dapat dipertimbangkan berdasarkan rekomendasi dokter.

Pemberian obat penekan asam tidak dianjurkan sebagai terapi awal dan hanya diberikan pada kasus GERD yang telah terkonfirmasi secara medis.

Melalui edukasi yang tepat, orang tua diharapkan dapat memahami bahwa regurgitasi bukanlah penyakit, serta mampu mengenali kapan kondisi tersebut masih wajar dan kapan perlu dikonsultasikan ke tenaga medis.

About Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *