Umum
Informasi kesehatan umum untuk semua kalangan — tips hidup sehat, pencegahan penyakit, dan kebiasaan sehat sehari-hari.

Benarkah Karang Gigi Bisa Masuk ke Jantung? Ini Faktanya | Kita Sehat
Pernah dengar anggapan bahwa karang gigi bisa masuk ke jantung dan menyebabkan penyakit jantung? Kalimat tersebut memang terdengar menakutkan. Apalagi ketika melihat karang gigi yang menempel keras di sekitar gigi, tidak sedikit orang yang membayangkan kotoran tersebut bisa lepas, masuk ke aliran darah, lalu mencapai jantung. Namun, sebenarnya bukan karang giginya yang “jalan-jalan” menuju jantung. Yang perlu diperhatikan adalah kondisi kesehatan gusi dan bakteri di dalam mulut. Ketika kebersihan mulut buruk dan terjadi peradangan atau infeksi pada gusi, bakteri dapat masuk ke aliran darah dalam kondisi tertentu. Karena itu, kesehatan gigi dan gusi tidak sebaiknya dianggap sebagai urusan penampilan saja.

3 Vaksin Penting untuk Usia 25+: Jangan Tunggu Sakit Baru Ingat Imunisasi | Kita Sehat
Masuk usia 25 tahun sering kali berarti mulai sibuk dengan pekerjaan, karier, hubungan, hingga berbagai rencana masa depan. Di tengah kesibukan tersebut, ada satu hal yang sering terlupakan: menjaga perlindungan tubuh dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksinasi. Banyak orang menganggap vaksin hanya penting saat masih anak-anak. Padahal, orang dewasa juga dapat membutuhkan vaksin tertentu untuk mempertahankan perlindungan, melengkapi imunisasi yang belum lengkap, atau menghadapi risiko penyakit tertentu. Lalu, vaksin apa saja yang perlu diperhatikan setelah usia 25 tahun?

Hipertensi, Si Pembunuh Senyap yang Sering Tidak Disadari | Kita Sehat
Merasa sehat bukan berarti tekanan darah pasti normal. Seseorang bisa tetap beraktivitas seperti biasa, merasa bugar, dan tidak merasakan keluhan apa pun, tetapi ternyata memiliki tekanan darah yang tinggi. Inilah alasan hipertensi sering disebut sebagai “pembunuh senyap”. Kondisi ini dapat berkembang tanpa gejala yang jelas, tetapi jika berlangsung dalam waktu lama, tekanan darah tinggi dapat memberikan beban besar pada jantung dan pembuluh darah serta meningkatkan risiko berbagai penyakit serius. Menurut World Health Organization (WHO), hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian dini di dunia. Yang membuatnya semakin perlu diperhatikan adalah banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami tekanan darah tinggi. Di Kita Sehat, memahami tekanan darah bukan hanya tentang mengetahui angkanya, tetapi juga tentang menyadari pentingnya pemeriksaan dan pencegahan sejak dini.

NEAT: Cara Membakar Kalori Tanpa Harus ke Gym | Kita Sehat
Olahraga sering kali identik dengan gym, treadmill, angkat beban, atau latihan intensitas tinggi. Padahal, tubuh tetap menggunakan energi bahkan ketika kita tidak sedang melakukan olahraga formal. Salah satu konsep yang menarik untuk dipahami adalah NEAT atau Non-Exercise Activity Thermogenesis. Sederhananya, NEAT adalah energi yang digunakan tubuh untuk berbagai aktivitas sehari-hari di luar olahraga yang terstruktur. Berjalan ke tempat kerja, naik tangga, membersihkan rumah, berdiri saat bekerja, atau sekadar lebih sering bergerak sepanjang hari ternyata dapat berkontribusi terhadap pengeluaran energi. Di Kita Sehat, kita bisa melihat aktivitas sehari-hari dari sudut pandang yang berbeda: olahraga tidak selalu harus dilakukan di gym. Terkadang, menjadi lebih aktif dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.

Benarkah Daging Kambing Bikin Darah Tinggi? Ini Faktanya | Kita Sehat
Daging kambing sering menjadi bagian dari berbagai hidangan favorit, mulai dari sate kambing, gulai, tongseng, hingga sup. Namun, di balik rasanya yang khas, muncul anggapan bahwa makan daging kambing dapat membuat tekanan darah meningkat. Anggapan ini cukup sering terdengar, terutama setelah seseorang makan hidangan berbahan dasar kambing lalu merasakan tubuh lebih panas atau tekanan darahnya meningkat. Tetapi, apakah benar daging kambing secara langsung menyebabkan darah tinggi? Sebenarnya, hubungan antara daging kambing dan tekanan darah tidak sesederhana itu. Jenis daging, jumlah yang dikonsumsi, cara memasak, kandungan garam, serta pola makan secara keseluruhan dapat memengaruhi kesehatan jantung dan tekanan darah. Di Kita Sehat, penting untuk membedakan antara mitos dan fakta agar kita tetap bisa menikmati makanan favorit dengan cara yang lebih bijak.

Pentingnya Me Time untuk Menjaga Kesehatan Mental | Kita Sehat
Di tengah kesibukan bekerja, mengurus keluarga, memenuhi target, hingga menjawab berbagai pesan yang tak ada habisnya, banyak orang merasa harus selalu tersedia untuk orang lain. Tanpa disadari, waktu untuk diri sendiri menjadi semakin sedikit. Padahal, meluangkan waktu untuk diri sendiri atau me time bukanlah bentuk kemalasan atau sikap egois. Justru, me time merupakan salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental agar tubuh dan pikiran tetap seimbang di tengah padatnya aktivitas. Lalu, mengapa me time begitu penting? Dan bagaimana cara melakukannya tanpa merasa bersalah?

Bangun Tidur Tapi Masih Lelah, Apa Penyebabnya? | Kita Sehat
Tidur selama tujuh hingga delapan jam seharusnya membuat tubuh terasa lebih segar saat bangun. Namun, tidak sedikit orang yang justru membuka mata dengan tubuh yang masih terasa berat, sulit berkonsentrasi, bahkan mengantuk sepanjang hari. Jika sesekali terjadi, kondisi ini mungkin dipengaruhi oleh aktivitas sehari sebelumnya. Namun, jika Anda sering bangun tidur tetapi masih merasa lelah meski durasi tidur sudah cukup, ada baiknya mencari tahu penyebabnya. Rasa lelah setelah bangun tidur tidak selalu berkaitan dengan lamanya tidur. Dalam banyak kasus, kualitas tidur dan kondisi kesehatan secara keseluruhan justru memiliki peran yang lebih besar.

Mengapa Otot Terasa Nyeri Setelah Latihan? Kenali DOMS | Kita Sehat
Pernahkah Anda merasa otot pegal atau nyeri satu hingga dua hari setelah berolahraga? Misalnya, setelah pertama kali mencoba latihan di gym, berlari lebih jauh dari biasanya, atau mengikuti kelas olahraga dengan intensitas yang lebih tinggi. Bahkan, rasa nyeri tersebut terkadang membuat Anda kesulitan naik tangga atau mengangkat barang. Jika pernah mengalaminya, kemungkinan besar Anda sedang mengalami Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS). Kondisi ini umum terjadi, terutama setelah tubuh melakukan aktivitas fisik yang baru atau lebih berat dari biasanya. Lalu, apa sebenarnya DOMS? Apakah kondisi ini berbahaya?

Dari Kuliner Nusantara ke Menu Masa Kini: Saat Rasa Lokal Kembali Jadi Inspirasi | Kita Sehat
Kuliner Indonesia tidak pernah kehabisan cerita. Dari masakan rumahan, jajanan kaki lima, hingga hidangan khas yang diwariskan lintas generasi, setiap daerah memiliki cita rasa dan tradisi yang membuat kuliner Nusantara begitu beragam. Menariknya, kekayaan tersebut kini tidak hanya dipertahankan sebagai warisan kuliner. Banyak chef dan pelaku bisnis kuliner mulai kembali menggali makanan lokal untuk menciptakan hidangan yang lebih modern dan sesuai dengan selera konsumen masa kini. Fenomena inilah yang menjadi salah satu inspirasi dalam “Future Menu 2026”, sebuah inisiatif dari Unilever Food Solutions (UFS) yang melihat bagaimana akar kuliner Indonesia dapat diterjemahkan menjadi menu baru yang lebih progresif.

Perut Buncit Bisa Menurunkan Testosteron? Ini Penjelasan Ilmiahnya | Kita Sehat
Perut buncit sering dianggap hanya masalah penampilan. Padahal, penumpukan lemak di area perut, terutama lemak visceral yang mengelilingi organ dalam, juga dapat memengaruhi kesehatan metabolik dan keseimbangan hormon pada pria, termasuk hormon testosteron. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pria dengan obesitas, terutama obesitas sentral (perut buncit), lebih berisiko memiliki kadar testosteron yang lebih rendah dibandingkan pria dengan berat badan sehat. Namun, hubungan ini bersifat kompleks dan tidak berarti setiap orang dengan perut buncit pasti mengalami kekurangan testosteron. Di Kita Sehat, kami mengajak masyarakat untuk memahami bahwa menjaga lingkar perut bukan hanya demi penampilan, tetapi juga untuk mendukung kesehatan hormonal dan metabolisme tubuh.
