DBD atau Demam Biasa? Kenali Perbedaannya Sejak Dini | Kita Sehat

Apa Itu Demam Berdarah Dengue (DBD)?
DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Gejala biasanya mulai muncul sekitar 4–10 hari setelah seseorang terinfeksi. Pada sebagian kasus, penyakit dapat berkembang menjadi kondisi berat yang ditandai dengan kebocoran plasma, perdarahan, hingga syok. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi.
Apa Perbedaan DBD dan Demam Biasa?
Meski sama-sama menyebabkan demam, terdapat beberapa perbedaan yang dapat membantu mengenali keduanya.
Pada demam biasa, suhu tubuh umumnya meningkat secara bertahap dan sering disertai gejala infeksi saluran napas, seperti batuk, pilek, atau sakit tenggorokan. Kondisi ini biasanya mulai membaik dalam beberapa hari dengan istirahat yang cukup dan pengobatan sesuai penyebabnya.
Sementara itu, pada DBD, demam biasanya muncul secara mendadak dengan suhu yang tinggi, sering kali mencapai 39°C atau lebih. Selain demam, penderita dapat mengalami:
Sakit kepala hebat.
Nyeri di belakang mata.
Nyeri otot dan sendi.
Mual atau muntah.
Tubuh terasa sangat lemas.
Nafsu makan menurun.
Pada sebagian penderita juga dapat muncul tanda perdarahan, seperti:
Bintik-bintik merah pada kulit.
Mimisan.
Gusi berdarah.
Perlu diingat bahwa tidak semua penderita DBD mengalami seluruh gejala tersebut. Oleh karena itu, pemeriksaan oleh tenaga medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Tanda Bahaya DBD yang Tidak Boleh Diabaikan
Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah ketika demam mulai turun. Banyak orang mengira penderita sudah sembuh, padahal pada DBD justru dapat memasuki fase kritis, yaitu periode ketika risiko komplikasi meningkat.
Segera cari pertolongan medis apabila muncul:
Nyeri perut yang hebat.
Muntah terus-menerus.
Mimisan atau gusi berdarah.
Muntah darah atau buang air besar berwarna hitam.
Tubuh sangat lemas atau sulit dibangunkan.
Tangan dan kaki terasa dingin.
Sesak napas.
Buang air kecil menjadi sangat sedikit.
Gejala-gejala tersebut memerlukan penanganan segera di fasilitas kesehatan.
Bagaimana Memastikan Seseorang Mengalami DBD?
DBD tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang apabila diperlukan, seperti:
Pemeriksaan darah lengkap untuk melihat jumlah trombosit dan kadar hematokrit.
Tes antigen NS1 pada fase awal infeksi.
Pemeriksaan antibodi IgM dan IgG dengue sesuai perjalanan penyakit.
Hasil pemeriksaan akan dipadukan dengan kondisi klinis pasien untuk menentukan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Mengalami Demam?
Jika mengalami demam, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi.
Istirahat yang cukup.
Gunakan obat penurun demam seperti parasetamol sesuai anjuran tenaga medis.
Hindari penggunaan aspirin atau ibuprofen tanpa anjuran dokter apabila DBD belum dapat disingkirkan, karena dapat meningkatkan risiko perdarahan pada beberapa kondisi.
Segera periksa ke fasilitas kesehatan apabila demam tinggi berlangsung lebih dari dua hari, kondisi semakin memburuk, atau muncul tanda bahaya.
Kesimpulan | Kita Sehat
DBD dan demam biasa memang memiliki gejala awal yang mirip, tetapi terdapat beberapa perbedaan yang penting untuk dikenali. DBD umumnya ditandai dengan demam tinggi yang muncul mendadak, disertai nyeri otot, nyeri di belakang mata, serta pada sebagian kasus muncul tanda perdarahan. Yang paling penting, kondisi penderita DBD justru dapat memburuk saat demam mulai turun.
Di Kita Sehat, kami percaya bahwa mengenali gejala sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius. Jangan menganggap semua demam sebagai "demam biasa". Jika demam tidak kunjung membaik atau muncul tanda bahaya, segera konsultasikan dengan tenaga medis untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Referensi
World Health Organization. (2024). Dengue and Severe Dengue.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Dengue: Symptoms and Clinical Guidance.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Dengue.
Simmons, C. P., Farrar, J. J., Nguyen, V. V., & Wills, B. (2012). Dengue. New England Journal of Medicine, 366(15), 1423–1432.
World Health Organization. (2023). Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue.
Perhatian Penting
Informasi di Kita-Sehat.id bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda kepada dokter atau tenaga kesehatan yang berwenang.



