Kita-Sehat.id
Kita-Sehat.id

© 2026 Kita-Sehat.id. Informasi Kesehatan Keluarga.

Umum

Revenge Bedtime Procrastination: Rela Tidur Larut Demi "Balas Dendam" pada Kesibukan | Kita Sehat

Tim Gaya Hidup Sehat
2 Sep 2026
0 views
3 menit baca
Bagikan:
Revenge Bedtime Procrastination: Rela Tidur Larut Demi "Balas Dendam" pada Kesibukan | Kita Sehat

Apa Itu Revenge Bedtime Procrastination?

Revenge bedtime procrastination adalah kebiasaan menunda waktu tidur tanpa alasan yang benar-benar mendesak, meskipun seseorang sadar bahwa ia harus bangun lebih awal keesokan harinya.

Istilah ini menggambarkan keinginan seseorang untuk "mengambil kembali" waktu pribadi yang terasa habis karena pekerjaan, sekolah, mengurus keluarga, atau berbagai tanggung jawab lainnya.

Contohnya seperti:

  • Terus menggulir media sosial hingga larut malam.

  • Menonton serial atau video lebih lama dari yang direncanakan.

  • Bermain gim sebelum tidur hingga lupa waktu.

  • Bekerja atau melakukan hobi meski waktu tidur sudah lewat.

Kondisi ini bukan merupakan diagnosis medis, tetapi merupakan perilaku yang dapat mengganggu pola tidur dan kesehatan jika terjadi secara terus-menerus.

Mengapa Kita Sengaja Menunda Tidur?

Keinginan untuk memiliki waktu bagi diri sendiri sering menjadi alasan utama seseorang menunda tidur.

Beberapa faktor yang dapat memicu revenge bedtime procrastination antara lain:

  • Jadwal kerja atau sekolah yang padat.

  • Kurangnya waktu untuk melakukan hobi atau relaksasi di siang hari.

  • Stres berkepanjangan.

  • Kebiasaan menggunakan ponsel atau perangkat digital sebelum tidur.

  • Sulit mengatur batas antara waktu bekerja dan waktu istirahat, terutama saat bekerja dari rumah.

Paparan cahaya dari layar perangkat elektronik pada malam hari juga dapat mengganggu ritme sirkadian dan menunda rasa kantuk.

Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Sesekali tidur larut mungkin tidak menimbulkan masalah serius. Namun, jika menjadi kebiasaan, kurang tidur dapat berdampak pada berbagai aspek kesehatan.

Beberapa dampak yang dapat terjadi meliputi:

  • Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa.

  • Produktivitas menurun.

  • Mudah lelah di siang hari.

  • Suasana hati menjadi lebih mudah berubah.

  • Menurunnya daya tahan tubuh.

  • Meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung apabila kurang tidur berlangsung dalam jangka panjang.

Tidur yang cukup merupakan salah satu fondasi penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan otak.

Siapa yang Lebih Berisiko?

Revenge bedtime procrastination lebih sering dialami oleh:

  • Pekerja dengan jam kerja yang panjang.

  • Orang tua yang sibuk mengurus keluarga.

  • Pelajar atau mahasiswa dengan jadwal padat.

  • Individu yang merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri di siang hari.

  • Orang yang sering menggunakan media sosial atau perangkat digital sebelum tidur.

Di Kita Sehat, kami percaya bahwa mengenali kebiasaan ini merupakan langkah awal untuk membangun pola tidur yang lebih sehat.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Mengurangi kebiasaan menunda tidur bukan berarti menghilangkan waktu untuk diri sendiri, tetapi mengelolanya dengan lebih seimbang.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menentukan jam tidur dan bangun yang konsisten setiap hari.

  • Menyediakan waktu untuk relaksasi atau hobi sebelum malam tiba.

  • Mengurangi penggunaan ponsel, tablet, atau laptop sekitar 30–60 menit sebelum tidur.

  • Mengaktifkan mode malam atau mengurangi paparan cahaya terang pada malam hari.

  • Membuat rutinitas sebelum tidur, seperti membaca buku atau melakukan peregangan ringan.

  • Mengatur batas waktu penggunaan media sosial atau layanan streaming.

Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu memperbaiki kualitas tidur.

Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan tenaga medis apabila:

  • Sulit tidur atau tidur larut berlangsung selama beberapa minggu.

  • Mengalami kantuk berlebihan pada siang hari.

  • Kelelahan mulai mengganggu pekerjaan, sekolah, atau aktivitas sehari-hari.

  • Disertai gejala seperti mendengkur keras, henti napas saat tidur, atau insomnia yang menetap.

Dokter dapat membantu mengevaluasi apakah terdapat gangguan tidur atau kondisi kesehatan lain yang memerlukan penanganan.

Kesimpulan | Kita Sehat

Revenge bedtime procrastination adalah kebiasaan menunda tidur demi mendapatkan waktu luang setelah menjalani hari yang padat. Meskipun terasa menyenangkan sesaat, kebiasaan ini dapat mengurangi waktu tidur dan berdampak pada kesehatan apabila dilakukan terus-menerus.

Di Kita Sehat, kami percaya bahwa waktu untuk diri sendiri memang penting, tetapi tidur yang cukup juga merupakan investasi bagi kesehatan fisik dan mental. Menyeimbangkan keduanya dapat membantu tubuh dan otak tetap bekerja secara optimal setiap hari.

Referensi

American Academy of Sleep Medicine. Healthy Sleep Habits.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Sleep and Sleep Disorders.

World Health Organization. Mental Health and Well-being.

Kroese, F. M., et al. (2014). Bedtime Procrastination: Introducing a New Area of Procrastination. Frontiers in Psychology, 5, 611.

Exelmans, L., & Van den Bulck, J. (2017). Bedtime Mobile Phone Use and Sleep in Adults. Social Science & Medicine, 148, 93–101.


Perhatian Penting

Informasi di Kita-Sehat.id bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda kepada dokter atau tenaga kesehatan yang berwenang.

Artikel Terkait

Tanya Kami di WhatsApp